Volume Mulai Ramai, Saham BUMI Melesat Hampir 10%

  • Bagikan
Volume Mulai Ramai, Saham BUMI Melesat Hampir 10%

Jakarta, BORNEOFOCUS Indonesia– Setelah melanjutkan penguatan di sesi I perdagangan, harga saham emiten batu bara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melanjutkan tren penguatan di akhir sesi perdagangan Senin (22/03/2021). Saham BUMI ditutup menguat hampir 10% tepatnya 9,68% atau berada di level Rp 68/saham, dibandingkan pada pekan lalu Rp 62/saham.

Berdasarkan RTI saham BUMI diperdagangkan di level Rp 62 sampai Rp 68/saham. Sebanyak 1,36 miliar saham diperdagangkan dengan nilai Rp 89,58 miliar.

Investor domestik masih mendominasi aksi jual beli dari saham emiten batu bara ini. Tercatat aksi beli investor domestik mendominasi 48,99% dengan 1,3 miliar saham senilai Rp 87,7 miliar. Sementara aksi jual investor domestik 45,04% dengan 1,2 miliar saham senilai Rp 80,6 miliar.

Untuk investor asing, terlihat lebih banyak aksi jual dibandingkan aksi beli. Tercatat aksi beli hanya 1,01% untuk 27 juta saham senilai Rp 1,8 miliar juta. Kemudian aksi jual 4,96% sebanyak 134,8 juta saham senilai Rp 8,9 miliar.

Penguatan BUMI juga terlihat dari pertengahan pekan lalu. Sebelumnya, Direktur dan Corporate Secretary Bumi Resources Dileep Srivastava mengatakan perusahaan menargetkan produksi tahun ini maksimal mencapai 90 juta ton, dengan kisaran 85-90 juta ton. Target ini naik 11% dibandingkan realisasi produksi pada 2020 sebanyak 81 juta ton.

Dia mengatakan perusahaan memanfaatkan momentum melesatnya harga batu bara untuk mendapatkan harga terbaik, menjaga dan meningkatkan pangsa pasar, serta efisiensi perusahaan. Sepanjang 2020 pun perusahaan mampu menjaga produksi agak tidak anjlok meski pandemi Covid-19 menghantam.

“Kaltim Prima Coal dan Arutmin tetap berproduksi normal sehingga salesnya tidak jatuh, di sisi lain kami juga serius mencegah Covid-19 di site. Sambil kami menjaga produksi, sehingga tahun ini produksinya 85-90 juta ton,” kata Dileep

Bisnis batu bara memang tidak ada habisnya, sejak 2015 konsumsi batu bara domestik saja naik 54% yakni yakni dari 86 juta ton pada 2015 menjadi 132 juta ton pada 2020. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif mengatakan kebutuhan batu bara dalam negeri dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dikarenakan beberapa hal. Pertama, kebutuhan batu bara untuk PLTU terus mengalami peningkatan, lalu adanya kewajiban membangun smelter yang menggunakan batu bara sebagai bahan bakar, serta kebutuhan akan tempat tinggal semakin meningkat, sehingga meningkatkan permintaan semen.

“Kebutuhan batu bara untuk pembangkit telah terpenuhi oleh produksi batu bara dalam negeri. Sementara penggunaan batu bara untuk pembangkit mencapai kurang lebih 79% dari total kebutuhan batu bara dalam negeri,” tuturnya.

[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)


Sumber Cnbc News

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *